Minggu, 15 Juni 2014

Sepucuk Surat Untuk Suamiku

tulisan ini saya buat karena berulang kali sedih mendengar salah seorang keluarga yang selalu sabar menghadapi kelakuan suaminya yang (nakal)....


suamiku yang aku hormati,
kutahu kini kecantikanku memudar seiring dengan berjalannya waktu. namun, aku sadari rasa hormatku kepadamu tak pernah memudar sedikitpun. aku menghormatimu sebagai imamku yang menuntunku di dunia dan akhirat nanti.

suamiku,
aku merasa bersalah telah membuat kebahagian diantara kita kurang sempurna karena nampaknya tuhan belum juga memberikan kita keturunan. aku selalu bersedih di tiap malam manakala aku terbangun dan kutatap engkau ketika engkau tertidur pulas di sampingku.

aku mencintaimu suamiku, mencintaimu dengan segala kekurangan yang (kita) miliki selama ini. aku tahu ada wanita lain di luar sana yang kini menarik hatimu. aku terkadang ingin menangis dan seolah pergi meninggalkanmu. tapi, aku tak pernah sanggup untuk melakukan itu semua.

aku selalu cemburu setiap kali engkau pergi ke luar dari rumah. aku cemburu karena kutahu di luar sana engkau menemui dia.

kini aku serahkan semua pada kuasa tuhan. semua yang terjadi diantara kita biarlah terjadi atas kehendaknya. aku akan mencoba untuk sabar, meskipun air mata yak kuasa kubendung lagi.

Kamis, 06 Maret 2014

Jakarta, 7 Maret Dini hari 2014

Penyesalan selalu datang di episode akhir hidup manusia. ia datang ketika semua seolah sudah tidak bisa diperbaiki lagi seperti sebelum semuanya terjadi hari ini.

aku tersudut di ruangaku tersudut di ruang kosong dengan linangan air mata. mataku memerah saga. terlalu banyak air mata penyesalan yang telah terurai. tanganku memeluk lutut dan memandangi tembok retak yang catnya telah terkelupas dimana-mana. yang kulihat adalah tembok, mencari sebuah pembenaran atas segala sikap dan perbuatan yang elah menjadi rekaman yang tak bisa diedit lagi atau dihilangkan bagian-bagian di dalamnya. yang kulihat bukan sebuah pembenaran diri, melainkan segala penyesalan yang terlanjur menjadi sebuah kebodohan yang kini aku harus tanggung resikonya.

oh tuhanku,
ternyata dalam keadaan tersudut seperti ini baru kusebut namamu, terlihat berat aku mengucap agung namamu. tapi itulah kejujuran terjujur yang muncul dari keegoisanku memandang arti namamu. permukaan hatiku yang angkuh dan penuh dengan kesombongan ternyata masih juga mengakui kekuatan namamu yang selama ini aku tepiskan.




Jumat, 21 Februari 2014

Aku Pendamba Senja

Langit menjadi lain, Angin seolah mengalir

Seperti menina bobokan si kecil yang sedang rewel, Pelan sekali

Di ujung lelah, setelah segan menatap nanar pijar sang siang



Langit bernoktahkan Jingga

Riak awan yang menggumpal terpapar sinar matahari yang mulai lelah.



Horison merefleksikan rona keemasan

Membuat garis imaji yang tak berujung

Jingga berpendar, memanjakan mata dan jiwa



Bibir terdiam, terpagut dalam takjub

Teriakan syukur yang berkecamuk dalam diam



Kegelapan, cepat sekali melumat terang.

Meninggalkan jejak rindu yang selalu ingin bertemu lagi.



Dalam semburat Jingga Senja, kuukir rindu

Kuterawang jauh menembus horison

Kutunggu engkau sang dewi jingga

Dalam kelabu senja di atap langit lain.

Hotel Nyaman Itu Bernama Sekretariat


    Dalam salah satu albumnya, sang legenda Bang Iwan Fals pernah menuliskan sebuah lagu yang menceritakan tentang  para buruh yang ingin berlibur bersama keluarga tercintanya. Meskipun hanya satu kali dalam satu tahun, tetapi bang Iwan menerangkan dalam liriknya bahwa liburan itu penting. Lagu itu berjudul Libur Kecil Kaum Kusam.

    Memang setiap orang siapapun itu, tanpa mengenal latar belakang, pekerjaan, budaya, agama dan lainnya pasti menyukai liburan. Entah caranya seperti apa, kemana tujuan mereka, tapi mereka butuh liburan setelah sekian lama bergelut dengan urusan rutinitas yang membelenggu jiwa serta otak mereka. Saya akui saya termasuk di dalam golongan manusia dengan kategori seperti apa yang diceritakan bang Iwan dalam judul yang tadi saya sebutkan di atas.

    Untuk berpergian dengan jarak yang dapat ditempuh dalam hitungan jam, mungkin kita hanya akan menghitung biaya untuk bahan bakar atau ongkos transportasi, biaya masuk lokasi wisata,  makan dan oleh-oleh jika kita memang merasa itu penting. Namun, untuk ukuran jarak yang membutuhkan waktu berhari-hari ada biaya tambahan lain yang tak bisa kita anggap remeh, yaitu urusan Tidur dan inap menginap.

    Ukuran saku saya memang sama dengan ukuran saku para teman-teman yang mungkin sekarang sedang membaca tulisan saya ini. Namun, isinya itu loh yang berbeda. Untuk ukuran (isi) kantong saya yang pas-pasan, biaya untuk inap-menginap itu selama sedang dalam tugas (baca:liburan)  perlu saya siasati agar saya mampu bertahan lebih lama, dengan jumlah tempat destinasi yang bertambah. Atau ketika saya ambil dana yang sekali lagi saya miliki itu sangat minim untuk urusan inap-menginap dari biaya perjalanan saya, saya akui mungkin saya akan pulang dengan berjalan kaki.

    Saya pernah beberapa kali tidur di trotoar atau di depan sebuah toko. Tapi ini tidur hanya beberapa jam saja karena sedang menunggu kendaraan. Pernah juga saya tidur di Mushala Pom bensin. Pernah tidur di stasiun kereta api. Pos keamanan juga pernah menjadi lapak saya untuk tidur. Orang-orang yang baru saya kenal juga terkadang pernah saya repotkan untuk menginap beberapa hari di rumahnya. Dan yang tersering adalah numpang tidur di sekretariat pecinta alam di manapun saya berada yang memiliki sekretariat. Entah itu Mapala (mahasiswa Pecinta Alam) ataupun KPA (komunitas Pecinta Alam)

    Sekretariat pecinta alam, entah itu Mapala maupun KPA menjadi tempat favorit saya dalam urusan inap menginap selama saya melakukan perjalanan. Selain menghemat biaya, tidur di sekretariat membuat  saya seolah merasakan sedang berada di rumah sendiri. Tak hanya itu, penghuni sekretariat merupakan contoh manusia-manusia yang menurut saya memiliki selera humor yang tinggi, baik dan ramah. Meroko terkadang dari bungkus yang sama. Hanya terkadang karena kalau beli rokok perbungkus pasti takkan awet lama karena yang meroko jenis manusia dengan paru-paru seperti kereta api. Tak hanya merokok, terkadang makanpun kita berbagi bersama sekalipun hanya dengan lauk seadanya. Sungguh kebersamaan yang indah dan takkan pernah terlupa.

    Saya sangat suka sekali pake banget tidur di sekretariat, meskipun dan bagaimanapun kondisi sekretariat itu. Bantal yang berbagi, beralaskan matras lipat, berselimutkan sarung atau sleeping bag, kipas angin yang sudah hilang penutup depannya, nyamuk-nyamuk kebonnya yang ganas-ganas, tidur berdesak-desakan. Tapi kondisi-kondisi menyedihkan seperti itu lebih saya nikmati dan takkan pernah ada gantinya ketimbang saya tidur di hotel mewah dengan kualitas bintang sekalipun. So wonderful life.

    Bukan hanya itu, sahabat-sahabat kita penghuni sekretariat itu sangat senang mengantar kita ke tempat-tempat indah di daerah yang kita kunjungi. Meskipun dengan motor yang tak ada rem depan dan bunyinya sudah seperti mesin bubut yang berisik. Itu juga bisa meminimalkan bugdet kita selama dalam perjalanan. Ketimbang kita harus naik angkutan ke destinasi yang ingin kita kunjungi. Otomastis pilihan pertama itu jauh lebih effisien dan low cost. 

    Namun, ada kalanya kita kewalahan oleh kenakalan anak remaja yang juga mengendap seolah menjadi tradisi di sekretariat Mapala maupun sekretariat KPA. Tapi ya itu, kenakalan yang satu ini terkadang yang malah menyatukan kita. Karena menyatukan inilah yang akhirnya membuat saya juga ikut-ikutan nakal.  Baru datang sudah diajak nakal, bahkan sebelum pulang pun kita seolah dibuat nakal sampai lupa dan dipaksa untuk pulang nanti-nanti saja. Nakal yang saya ceritakan diatas tak perlu ditiru kalau anda emang orang baik-baik saja. Ya kalau anda emang mau nakal ya silahkan. Namanya anak laki-laki wajar lah kalau nakal sedikit.

    Di akhir tulisan saya ingin mengucapkan terima kasih yang takkan pernah bisa saya balas kepada saudara-saudara saya di manapun engkau berada yang pernah mau saya repotkan. Sungguh tiada hari yang lebih indah dari masa-masa kita menyanyi bersama dengan suara kencang-kencang meskipun sedang dalam kondisi nakal. Persahabatan diantara sesama pecinta alam dan penempuh rimba yang saya rasakan sungguh tiada duanya.  Dan kini saya tak pernah merasa takut ataupun risau manakala saya kehabisan ongkos dimanapun saya berada. SALAM LESTARI

Minggu, 29 Desember 2013

teman? sahabat?

disana, kita menghabiskan waktu
mengumpulkan mozaik hidup yang tercecer
menyusun jalan hidup berbeda
namun tetap bersama

ketika deru hati gelisah menyambut esok
nasihat teman membangkitkan

tertawa riang menertawakan hal remeh temeh
bercerita tentang apapun
bahkan tentang semua, terlebih persahabatan

bersama,
kita lewati indahnya hari

bersama,
kita jalani terjalnya nasib

bersama,
kita bicarakan tentang esok

bersamamu selamanya.....

tak perduli apapun, tak perduli dimanapun, tak perduli kapanpun.



kita tetap bersama......

Setitik Noktah dari MAHAMERU

kabut itu sedikit menebal,
ketika kaki kami melewatinya
udara itu lebih dingin ketika kami menyumbunya
dan sebuah tekad hanyalah sebuah tekad

ketika jiwa ingin menggapai singgasana awan
namun kaki letih dengan segala beban
ketika mata terbelalak puas badan ini ambruk

ranukumbolo akan selalu tenang,
ketika badai menerjang hutan pinus sekitarnya
oro-oro ombo akan selalu menampilkan kegersangannya yang dingin
dan badai pasir itu akan selalu berputar di titik tertinggimu

ketika kami terseok-seok menahan beban,
ketika udara dingin menguliti kulit kami,
ketika keletihan mengubur segala senyum dan tawa
namun, ketika hangatnya api menyala, disitu persahabatan kami berada.


ranupani, 18 Agustus 2009

Sebuah Puisi Untuk Wanita Perkasa (Ibu)

tangis itu telah berubah menjadi suatu suara tegas nan lantang
kulit halus telah menjadi otot-otot yang liat
manja itu hanya ada ketika sakit
dan belaian itu kini terbungkus oleh kulit yang telah tua

ada sebuah keindahan ketika kudengar petuahmu
terkadang kesal, terkadang bosan
namun suara itu adalah mercusuar, selalu benderang dalam pekat

tanpa dirasa, kumis ini mulai tumbuh
jakunpun mulai menonjol
pertanda siap menatang takdir
segala bekalmu telah siap menemaniku

di kala senja, ketika burung bersarang kembali
kau tatap mata anakmu ini, seolah menaruh harap.
seolah memaksa, tatapan itu nanar
mengharap aku tegak dan kuat menahan angin dari selatan ketika badai

waktu terlalu cepat meninggalkan aku
sebentarpun aku tak bisa rehat untuk melemaskan persendian
dan kini semua semakin renta
renta dan kemudian habis