Langit menjadi lain, Angin seolah mengalir
Seperti menina bobokan si kecil yang sedang rewel, Pelan sekali
Di ujung lelah, setelah segan menatap nanar pijar sang siang
Langit bernoktahkan Jingga
Riak awan yang menggumpal terpapar sinar matahari yang mulai lelah.
Horison merefleksikan rona keemasan
Membuat garis imaji yang tak berujung
Jingga berpendar, memanjakan mata dan jiwa
Bibir terdiam, terpagut dalam takjub
Teriakan syukur yang berkecamuk dalam diam
Kegelapan, cepat sekali melumat terang.
Meninggalkan jejak rindu yang selalu ingin bertemu lagi.
Dalam semburat Jingga Senja, kuukir rindu
Kuterawang jauh menembus horison
Kutunggu engkau sang dewi jingga
Dalam kelabu senja di atap langit lain.
Jumat, 21 Februari 2014
Hotel Nyaman Itu Bernama Sekretariat
Dalam salah satu albumnya, sang legenda Bang Iwan Fals pernah menuliskan sebuah lagu yang menceritakan tentang para buruh yang ingin berlibur bersama keluarga tercintanya. Meskipun hanya satu kali dalam satu tahun, tetapi bang Iwan menerangkan dalam liriknya bahwa liburan itu penting. Lagu itu berjudul Libur Kecil Kaum Kusam.
Memang setiap orang siapapun itu, tanpa mengenal latar belakang, pekerjaan, budaya, agama dan lainnya pasti menyukai liburan. Entah caranya seperti apa, kemana tujuan mereka, tapi mereka butuh liburan setelah sekian lama bergelut dengan urusan rutinitas yang membelenggu jiwa serta otak mereka. Saya akui saya termasuk di dalam golongan manusia dengan kategori seperti apa yang diceritakan bang Iwan dalam judul yang tadi saya sebutkan di atas.
Untuk berpergian dengan jarak yang dapat ditempuh dalam hitungan jam, mungkin kita hanya akan menghitung biaya untuk bahan bakar atau ongkos transportasi, biaya masuk lokasi wisata, makan dan oleh-oleh jika kita memang merasa itu penting. Namun, untuk ukuran jarak yang membutuhkan waktu berhari-hari ada biaya tambahan lain yang tak bisa kita anggap remeh, yaitu urusan Tidur dan inap menginap.
Ukuran saku saya memang sama dengan ukuran saku para teman-teman yang mungkin sekarang sedang membaca tulisan saya ini. Namun, isinya itu loh yang berbeda. Untuk ukuran (isi) kantong saya yang pas-pasan, biaya untuk inap-menginap itu selama sedang dalam tugas (baca:liburan) perlu saya siasati agar saya mampu bertahan lebih lama, dengan jumlah tempat destinasi yang bertambah. Atau ketika saya ambil dana yang sekali lagi saya miliki itu sangat minim untuk urusan inap-menginap dari biaya perjalanan saya, saya akui mungkin saya akan pulang dengan berjalan kaki.
Saya pernah beberapa kali tidur di trotoar atau di depan sebuah toko. Tapi ini tidur hanya beberapa jam saja karena sedang menunggu kendaraan. Pernah juga saya tidur di Mushala Pom bensin. Pernah tidur di stasiun kereta api. Pos keamanan juga pernah menjadi lapak saya untuk tidur. Orang-orang yang baru saya kenal juga terkadang pernah saya repotkan untuk menginap beberapa hari di rumahnya. Dan yang tersering adalah numpang tidur di sekretariat pecinta alam di manapun saya berada yang memiliki sekretariat. Entah itu Mapala (mahasiswa Pecinta Alam) ataupun KPA (komunitas Pecinta Alam)
Sekretariat pecinta alam, entah itu Mapala maupun KPA menjadi tempat favorit saya dalam urusan inap menginap selama saya melakukan perjalanan. Selain menghemat biaya, tidur di sekretariat membuat saya seolah merasakan sedang berada di rumah sendiri. Tak hanya itu, penghuni sekretariat merupakan contoh manusia-manusia yang menurut saya memiliki selera humor yang tinggi, baik dan ramah. Meroko terkadang dari bungkus yang sama. Hanya terkadang karena kalau beli rokok perbungkus pasti takkan awet lama karena yang meroko jenis manusia dengan paru-paru seperti kereta api. Tak hanya merokok, terkadang makanpun kita berbagi bersama sekalipun hanya dengan lauk seadanya. Sungguh kebersamaan yang indah dan takkan pernah terlupa.
Saya sangat suka sekali pake banget tidur di sekretariat, meskipun dan bagaimanapun kondisi sekretariat itu. Bantal yang berbagi, beralaskan matras lipat, berselimutkan sarung atau sleeping bag, kipas angin yang sudah hilang penutup depannya, nyamuk-nyamuk kebonnya yang ganas-ganas, tidur berdesak-desakan. Tapi kondisi-kondisi menyedihkan seperti itu lebih saya nikmati dan takkan pernah ada gantinya ketimbang saya tidur di hotel mewah dengan kualitas bintang sekalipun. So wonderful life.
Bukan hanya itu, sahabat-sahabat kita penghuni sekretariat itu sangat senang mengantar kita ke tempat-tempat indah di daerah yang kita kunjungi. Meskipun dengan motor yang tak ada rem depan dan bunyinya sudah seperti mesin bubut yang berisik. Itu juga bisa meminimalkan bugdet kita selama dalam perjalanan. Ketimbang kita harus naik angkutan ke destinasi yang ingin kita kunjungi. Otomastis pilihan pertama itu jauh lebih effisien dan low cost.
Namun, ada kalanya kita kewalahan oleh kenakalan anak remaja yang juga mengendap seolah menjadi tradisi di sekretariat Mapala maupun sekretariat KPA. Tapi ya itu, kenakalan yang satu ini terkadang yang malah menyatukan kita. Karena menyatukan inilah yang akhirnya membuat saya juga ikut-ikutan nakal. Baru datang sudah diajak nakal, bahkan sebelum pulang pun kita seolah dibuat nakal sampai lupa dan dipaksa untuk pulang nanti-nanti saja. Nakal yang saya ceritakan diatas tak perlu ditiru kalau anda emang orang baik-baik saja. Ya kalau anda emang mau nakal ya silahkan. Namanya anak laki-laki wajar lah kalau nakal sedikit.
Di akhir tulisan saya ingin mengucapkan terima kasih yang takkan pernah bisa saya balas kepada saudara-saudara saya di manapun engkau berada yang pernah mau saya repotkan. Sungguh tiada hari yang lebih indah dari masa-masa kita menyanyi bersama dengan suara kencang-kencang meskipun sedang dalam kondisi nakal. Persahabatan diantara sesama pecinta alam dan penempuh rimba yang saya rasakan sungguh tiada duanya. Dan kini saya tak pernah merasa takut ataupun risau manakala saya kehabisan ongkos dimanapun saya berada. SALAM LESTARI
Minggu, 29 Desember 2013
teman? sahabat?
disana, kita menghabiskan waktu
mengumpulkan mozaik hidup yang tercecer
menyusun jalan hidup berbeda
namun tetap bersama
ketika deru hati gelisah menyambut esok
nasihat teman membangkitkan
tertawa riang menertawakan hal remeh temeh
bercerita tentang apapun
bahkan tentang semua, terlebih persahabatan
bersama,
kita lewati indahnya hari
bersama,
kita jalani terjalnya nasib
bersama,
kita bicarakan tentang esok
bersamamu selamanya.....
tak perduli apapun, tak perduli dimanapun, tak perduli kapanpun.
kita tetap bersama......
mengumpulkan mozaik hidup yang tercecer
menyusun jalan hidup berbeda
namun tetap bersama
ketika deru hati gelisah menyambut esok
nasihat teman membangkitkan
tertawa riang menertawakan hal remeh temeh
bercerita tentang apapun
bahkan tentang semua, terlebih persahabatan
bersama,
kita lewati indahnya hari
bersama,
kita jalani terjalnya nasib
bersama,
kita bicarakan tentang esok
bersamamu selamanya.....
tak perduli apapun, tak perduli dimanapun, tak perduli kapanpun.
kita tetap bersama......
Setitik Noktah dari MAHAMERU
kabut itu sedikit menebal,
ketika kaki kami melewatinya
udara itu lebih dingin ketika kami menyumbunya
dan sebuah tekad hanyalah sebuah tekad
ketika jiwa ingin menggapai singgasana awan
namun kaki letih dengan segala beban
ketika mata terbelalak puas badan ini ambruk
ranukumbolo akan selalu tenang,
ketika badai menerjang hutan pinus sekitarnya
oro-oro ombo akan selalu menampilkan kegersangannya yang dingin
dan badai pasir itu akan selalu berputar di titik tertinggimu
ketika kami terseok-seok menahan beban,
ketika udara dingin menguliti kulit kami,
ketika keletihan mengubur segala senyum dan tawa
namun, ketika hangatnya api menyala, disitu persahabatan kami berada.
ranupani, 18 Agustus 2009
ketika kaki kami melewatinya
udara itu lebih dingin ketika kami menyumbunya
dan sebuah tekad hanyalah sebuah tekad
ketika jiwa ingin menggapai singgasana awan
namun kaki letih dengan segala beban
ketika mata terbelalak puas badan ini ambruk
ranukumbolo akan selalu tenang,
ketika badai menerjang hutan pinus sekitarnya
oro-oro ombo akan selalu menampilkan kegersangannya yang dingin
dan badai pasir itu akan selalu berputar di titik tertinggimu
ketika kami terseok-seok menahan beban,
ketika udara dingin menguliti kulit kami,
ketika keletihan mengubur segala senyum dan tawa
namun, ketika hangatnya api menyala, disitu persahabatan kami berada.
ranupani, 18 Agustus 2009
Sebuah Puisi Untuk Wanita Perkasa (Ibu)
tangis itu telah berubah menjadi suatu suara tegas nan lantang
kulit halus telah menjadi otot-otot yang liat
manja itu hanya ada ketika sakit
dan belaian itu kini terbungkus oleh kulit yang telah tua
ada sebuah keindahan ketika kudengar petuahmu
terkadang kesal, terkadang bosan
namun suara itu adalah mercusuar, selalu benderang dalam pekat
tanpa dirasa, kumis ini mulai tumbuh
jakunpun mulai menonjol
pertanda siap menatang takdir
segala bekalmu telah siap menemaniku
di kala senja, ketika burung bersarang kembali
kau tatap mata anakmu ini, seolah menaruh harap.
seolah memaksa, tatapan itu nanar
mengharap aku tegak dan kuat menahan angin dari selatan ketika badai
waktu terlalu cepat meninggalkan aku
sebentarpun aku tak bisa rehat untuk melemaskan persendian
dan kini semua semakin renta
renta dan kemudian habis
kulit halus telah menjadi otot-otot yang liat
manja itu hanya ada ketika sakit
dan belaian itu kini terbungkus oleh kulit yang telah tua
ada sebuah keindahan ketika kudengar petuahmu
terkadang kesal, terkadang bosan
namun suara itu adalah mercusuar, selalu benderang dalam pekat
tanpa dirasa, kumis ini mulai tumbuh
jakunpun mulai menonjol
pertanda siap menatang takdir
segala bekalmu telah siap menemaniku
di kala senja, ketika burung bersarang kembali
kau tatap mata anakmu ini, seolah menaruh harap.
seolah memaksa, tatapan itu nanar
mengharap aku tegak dan kuat menahan angin dari selatan ketika badai
waktu terlalu cepat meninggalkan aku
sebentarpun aku tak bisa rehat untuk melemaskan persendian
dan kini semua semakin renta
renta dan kemudian habis
Kamis, 18 Juli 2013
Kenapa Saya Mendaki Gunung
Entah siapa yang pertama kali memulai naik gunung di dunia ini.
Siapapun itu nampaknya patut kita berikan penghargaan yang besar.
Mendaki
gunung dapat dikategorikan ke dalam
olahraga luar ruangan yang memiliki tingkat kesulitan yang dapat dikatakan gampang-gampang
susah. Dapat dikatakan gampang karena olahraga ini hanya mengandalkan sepasang
kaki kita. Namun, dapat dikatakan susah karena medan yang akan kita hadapi
berupa alam yang tidak dapat kita prediksikan fenomenanya.
Mendaki
gunung dikatakan gampang karena manusia normal pada umumnya bisa berjalan kaki
kecuali (maaf) para penyandang cacat. Setiap orang di dalam hidupnya pasti
pernah bahkan selalu setiap saat berjalan kaki. Kecuali dalam keadaan tidur
tentunya.
Susah
karena medan yang dihadapi berupa alam yang kondisinya dapat berubah dratis
dalam hitungan detik saja. Hujan deras, badai, meletusnya gunung, kebakaran
hutan dan fenomena lainnya ini yang tidak bisa kita hindari, namun, hanya bisa
kita minimalkan dampaknya. Kita dapat meminimalkan dampaknya dengan knowledge
atau ilmu pengetahuan yang kita miliki. Ini yang terkadang disepelekan oleh para
newbie yang mencoba mendaki gunung tanpa dibekali pengetahuan yang cukup,
sehingga hal yang terlihat sepele bisa menjadi malapetaka berdampak lepasnya
jiwa dari raga (meninggal)
Mendaki
gunung adalah suatu prosesi pencarian jati diri. Ada suatu jawaban-jawaban yang
berupa pesan tak tersirat dalam sebuah pendakian. Pesan-pesan tak tersirat itu
datang dari desiran angin yang membelai dedaunan, dari gemercik air hujan yang
membasahi padang rumput, dari kicauan burung, dari fenomena munculnya sang
fajar dan masih banyak lagi.
Dari
desiran angin yang membelai dedaunan kita dapat belajar tentang sebuah
kedamaian hati. Dari gemercik air hujan yang membasahi padang rumput kita bisa
belajar tentang indahnya suatu kesetiaan sang rumput yang menunggu hujan. Dari
kicauan burung-burung di kala pagi kita dapat belajar tentang sebuah kesungguhan
hati memikul tanggung jawab. Dari mentari terbit kita bisa belajar bahwa di
suatu esok yang nanti akan tiba, ada sebuah harapan dan sebuah cita-cita.
Ada
suatu ketenangan jiwa ketika saya berada di tengah-tengah alam. Ada puisi-puisi
indah yang mengalir begitu saja dari dalam sukma ketika berada di dalam
belantara. Dan, ketika melihat keindahan ciptaannya di alam terbuka, diam yang
kita lakukan seolah menjadi puisi cinta terindah yang pernah kita buat.
Saya
selalu merasa ingin mendaki gunung ketika keramaian dan ke-glamoran kota tak
mampu lagi memberikan kenyamanan yang bisa menentramkan hati saya. Biarpun
terkadang saya butuh keramaian untuk menghibur bathin saya, namun, nampaknya
ketenangan hakiki khas pegunungan mampu memberikan saya keheningan yang bisa
meramaikan hati saya.
Ketika orang-orang
selalu mencibir saya dengan kehidupan saya yang sekarang, alam dengan tangan
terbukanya menyambut saya lewat kabutnya yang tipis dan udaranya yang jernih.
Ketika orang yang sebelumnya mengasihi saya dengan rasa cintanya yang besar
kemudian tanpa saya duga-duga sebelumnya memilih untuk pergi meninggalkan saya,
saya hanya bisa pergi mendaki gunung untuk mengobati segala kesedihan yang saya
rasakan. Nampaknya alam tak pernah alfa memberikan kasih sayangnya untuk saya
dalam bentuk keindahan yang terpancar di dalam setiap inci tubuhnya. Di
dalam dekapan rimba belantara saya seperti merasa pulang kembali ke dalam rumah
yang sudah lama saya tinggalkan. Kenyamanan serta hangatnya suasana di dalamnya
selalu saya rindukan ketika saya lama tak mengunjunginya. Andaikan saja saya
tak memikirkan apa yang ada di kehidupan sehari-hari pada umumnya di kota, saya
mungkin ingin menetap selamanya di dalam hutan belantara seperti layaknya
tarzan.
Senin, 07 Januari 2013
SEMU
aku menunggumu,
seperti senja yang rindu malam
seperti retakan tanah yang rindu dicumbu hujan
sampai kabut menutupi lembah
rinduku akan seabadi edelweis
Langganan:
Postingan (Atom)
